Bukan Sekadar Jargon Lumbung Ternak

Home/Peristiwa/Berita/Bukan Sekadar Jargon Lumbung Ternak

Lampung dengan segala potensi yang dimilikinya berpeluang menjadi lumbung ternak nasional. Hal itu sangat memungkinkan mengingat selama ini Lampung memiliki sumber daya yang mendukung. Posisi daerah sebagai pintu gerbang utama penghubung Pulau Sumatera dengan Jawa menjadikan Lampung sangat potensial sebagai jalur pemasaran produk peternakan.

Provinsi Sang Bumi Ruwa Jurai ini juga kaya dengan sumber daya alam sebagai penunjang keberhasilan usaha peternakan. Sektor pertanian yang banyak dijumpai hampir di seluruh wilayah provinsi dengan luas 35.587 kilometer persegi menjadi salah satu faktor pendukung Lampung untuk menjadi lumbung ternak. Limbah dari industri pertanian yang mengandung nutrisi bisa menjadi bahan pakan bagi ternak.

Potensi besar Lampung untuk menjadi lumbung ternak nasional pun diamini Gubernur Arinal Djunaidi. Bahkan, orang nomor satu yang baru dilantik itu langsung berjanji memenuhi kebutuhan konsumsi dalam jangka pendek maupun pembibitan pada masa mendatang. Keinginan Gubernur tersebut cukup beralasan. Sebab, berdasar pada data Badan Pusat Statistik (BPS), subsektor peternakan memiliki prospek cerah dan itu diperkuat dengan nilai tukar petani (NTP) untuk subsektor peternakan (NTP-Pt) naik mencapai 116,42. Di Lampung, lumbung ternak berada di beberapa wilayah, seperti Lampung Tengah, Lampung Selatan, dan Metro.

Belum lagi Way Kanan yang mulai bergeliat dengan mencanangkan adanya kampung ternak pada Mei lalu. Saat ini Lampung memiliki 11 feedloter (perusahaan penggemukan sapi) dengan kapasitas tampung 125 ribu ekor atau 36 persen dari kapasitas nasional yang 350 ribu ekor. Ternak asal Lampung banyak dikirim ke Pulau Jawa, seperti wilayah Jabodetabek. Upaya menjadikan Lampung sebagai lumbung ternak nasional sudah dilakukan dengan menggalakkan program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting atau Upsus Siwab. Hal itu sebagai upaya menjaga kejayaan ternak di Sang Bumi Ruwa Jurai. Namun, untuk mewujudkan Lampung sebagai lumbung ternak pun harus didukung berbagai sektor, selain sumber daya alam yang dimiliki. Sebab, pengembangan hewan ternak perlu inovasi untuk bisa memenuhi kebutuhan peternak, terutama masalah pakan.

Dalam upaya pengembangan ternak tersebut, Pemerintah Provinsi Lampung melalui Dinas Perkebunan dan Peternakan pun mendorong para peternak lokal melakukan penambahan protein untuk hewan melalui tanaman indigofera. Tanaman tersebut merupakan hijauan pakan ternak jenis leguminosa yang kaya akan nitrogen, fosfor, dan kalsium. Pakan dari tanaman asal tanah Papua tersebut diyakini bisa meningkatkan swasembada pangan protein hewani. Penanaman indigofera sudah dilakukan di berbagai kabupaten dan kini luas penanamannya sudah mencapai 10 ribu hektare lebih. Dua daerah, yakni Pringsewu dan Tulangbawang menjadi pilot project nasional penanaman indigofera.

Pemberian tanaman indigofera jangan sampai melupakan jagung. Sebab, jagung merupakan sumber pakan utama hewan. Apa yang dilakukan Pemprov perlu dukungan semua pihak, seperti stakeholder terkait. Pengembangan untuk menjadikan Lampung sebagai lumbung ternak akan mendatangkan keuntungan yang bagi masyarakat sendiri. Sebagai lumbung ternak, tentunya akan makin banyak hewan yang bisa dikirim ke berbagai wilayah. Artinya, pendapatan daerah pun turut bertambah. Dan yang terpenting adalah kesejahteraan para peternak turut meningkat. Jangan sampai Lampung lumbung ternak jadi sekadar jargon.

Sumber: lampost.co http://www.lampost.co/berita-bukan-sekadar-jargon-lumbung-ternak.html

 

By | 2019-07-03T10:07:08+00:00 June 23rd, 2019|Berita, Peristiwa|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment