Biogas dari Kotoran Sapi, Solusi Kelangkaan Gas Elpiji di Purworejo

Home/Peristiwa/Biogas dari Kotoran Sapi, Solusi Kelangkaan Gas Elpiji di Purworejo

Kelangkaan gas elpiji 3 Kg masih dirasakan oleh warga Purworejo, Jawa Tengah. Untuk mengantisipasi hal tersebut, sebagian warga menggunakan biogas yang bahan utamanya berasal dari kotoran sapi.

Adalah Edi Sarwoko (45), warga Dusun Wunut, Desa Tangkisan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, yang berhasil mengubah kotoran sapi menjadi biogas tersebut, yang akhirnya bisa dimanfaatkan sebagai pengganti gas elpiji. Edi yang setiap hari berprofesi sebagai pemelihara sapi, akhirnya bisa menciptakan biogas bersama keluarganya.

“Ya sapinya kami pelihara untuk digemukkan, terus kotorannya pertama buat pupuk organik saja. Akhirnya karena warga sini kesulitan mendapatkan gas elpiji, maka kami bersama saudara yang jadi dosen di Undip Semarang mengadakan reset agar kotoran itu bisa dimanfaatkan untuk yang lain sehingga tercipta lah biogas ini,” kata Edi kepada detikcom, Selasa (3/10/2017).

Lebih lanjut Edi menjelaskan bagaimana kotoran sapi itu bisa berubah menjadi biogas yang hingga sekarang bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar. Dalam sehari, rata-rata Edi yang dibantu oleh 8 karyawan untuk memelihara puluhan sapinya itu, memproses biogas sebanyak 2 sampai 3 kali.

“Jadi itu kotoran dimasukkan dalam selokan penampungan dan diguyur dengan air hingga masuk ke dalam mixer, diolah sedemikian rupa kemudian masuk ke tabung reaktor atau digaster yang atasnya seperti kubah yang berfungsi menampung gas, kemudian melalui pipa paralon kita salurkan ke warga sekitar,” lanjutnya.

Hingga kini, sudah 12 rumah yang bisa memanfaatkan biogas yang bisa menghasilkan api warna biru seperti gas elpiji tersebut. Jarak terjauh penyaluran dari tangki penampungan menuju rumah warga sementara mencapai 300 meter.

Kepada warga, Edi dan keluarga sendiri tidak mengkomersilkan temuan biogas tersebut. Edi menuturkan, hal tersebut dilakukan karena murni ingin membantu warga yang kesulitan dalam memperoleh gas elpiji selama ini.

“Gratis mas, memang kami pingin bantu warga sini, kompor biogas juga kami kasih, kalau yang sudah ada kompor gas biasa ya bisa dipakai tapi harus dimodifikasi dahulu. Meski sudah kami gratiskan tapi warga tetap ingin mbayar iuran seikhlasnya, katanya untuk khas perawatan,” imbuhnya.

Untuk mengetahui tekanan biogas yang tersedia, setiap warga pemakai juga dipasangi manometer sebagai alat kontrol tekanan gas sebelum digunakan.

Sementara itu, salah satu warga yang merasa terbantu dengan temuan bio gas, Sulastri (50), mengatakan lebih memilih biogas daripada gas elpiji. Selain gratis, bioas ini juga bisa dipakai setiap hari tanpa harus takut kehabisan.

“Ya milih ini mas biogas, kalau elpiji kan susah didapat terus mahal lagi, biogas kan tiap hari bisa dipakai, mudah-mudahan lancar terus lah biogasnya,” tutur Sulastri.

Rencananya ke depan, jumlah penampungan gas akan ditambah lagi agar produksi biogas tersebut semakin meningkat sehingga lebih banyak lagi warga yang bisa menikmati biogas tersebut.

Sumber: detik.com

Baca juga
DKI dan Jatim Diminta Beli Sapi Pengungsi Gunung Agung – viva.co.id
Melihat Kontes Sapi se-Jawa Tengah di Boyolali – detik.com

By | 2017-10-04T11:20:59+00:00 October 4th, 2017|Peristiwa|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment