Tata Niaga dan Sistem Pemeliharaan Tentukan Harga

Home/Peristiwa/Tata Niaga dan Sistem Pemeliharaan Tentukan Harga

I Ketut Diarmita, Direktoral Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) melalui media online (sumber) dalam artikel yang berjudul “Ini alasan mengapa harga daging lokal lebih mahal”, Selasa (23/5) mengungkapkan bahwa sistem tata niaga pemeliharaan yang belum efisien menjadi penyebab utama harga daging sapi segar lokal lebih mahal jika dibandingkan dengan harga daging beku impor.

Menurutnya, dikutip dari sumber bahwa rantai tata niaga sapi dari peternak ke rumah potong hewan hingga ke pedagang daging masih sangat panjang sehingga menimbulkan biaya tambahan yang memicu tingginya harga daging segar dari sapi lokal. Selain itu, sistem pemeliharaan juga menjadi faktor penentu harga daging segar.

“Mahalnya daging sapi segar lokal disebabkan sistem pemeliharaan yang belum efisien dan skala kepemilikan masih 2 hingga 5 ekor per perternak. Jika dibandingkan dengan sistem pemeliharaan di negara produsen sapi seperti Australia dan New Zealand,” ungkapnya yang dikutip dari sumber.

Sumber: Jurnas.com

Selain itu, distribusi daging kerbau ex-impor juga diprioritaskan hanya untuk daerah-daerah sentra konsumen dan dapat diedarkan ke daerah lain sepanjang tidak ada penolakan dari Pemerintah Daerah setempat, yang diharapkan tidak menganggu daging sapi lokal. – bisnis.tempo.co

Baca juga
Jelang Bulan Puasa, Indonesia Masih Impor Daging – jurnas.com

Kementan: Daging Kerbau Impor tidak untuk Matikan Peternak Lokal – republika.co.id

Polisi tunggu uji laboratorium daging beku “selundupan” – antaranews.com

Bulog Sediakan Empat Ton Daging Kerbau, Jawa Tengah – sindonews.com

By | 2017-05-24T10:24:32+00:00 May 24th, 2017|Peristiwa|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment