Revisi Bobot Sapi di Meja Menteri

Home/Peristiwa/Revisi Bobot Sapi di Meja Menteri

Kementerian Pertanian memastikan revisi peraturan menteri mengenai impor sapi bakalan rampung bulan ini, di antaranya mengenai ketentuan bobot dan perpanjangan masa perizinan

Kepala Subdit Perlindungan Hewan Kementerian Pertanian Dinal Rifqi menyampaikan draf revisi tersebut sudah ada di meja menteri sejak sepekan lalu.

“Harapannya bulan ini sudah selesai, apalagi untuk mengantisipasi Lebaran pada Juni nanti,” katanya di Kantor Kementerian Pertanian, Senin (20/2).

Rencana perubahan atas Peraturan Menteri Pertanian 49/Permentan/ PK.440/10/2016 tentang Pemasukan Ternak Ruminansia Besar Ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia itu, memuat tiga poin. Pertama, bobot sapi bakalan maksimal 450 kilogram, lebih tinggi dari aturan terdahulu yang membatasi bobot 350 kilogram.

Dengan ketentuan bobot sapi yang lebih tinggi, maka importir memiliki pilihan lebih banyak sehingga dapat menekan harga sapi bakalan. Di Australia, sapi bakalan dengan bobot maksimal 350 kilogram jumlahnya terbatas, sehingga membuat harga lebih mahal.

Sebaliknya, sapi bakalan dengan bobot di luar 350 kilogram lebih banyak sehingga harganya lebih murah. Dengan rencana perubahan bobot sapi harapannya dapat mengupayakan turun A$1 per kilogram, dari kisaran harga A$3,5 kg. Dinal menambahkan meski bobot sapi lebih tinggi dari sebelumnya, tetapi tidak mengubah ketentuan dalam proses penggemukan paling cepat empat bulan, seperti yang diatur dalam UU No. 41 tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

“Pelaku usaha memiliki pilihan yang lebih luas dalam memasukkan jenis berat badan sapi. Targetnya bisa menurunkan harga daging sapi medekati Rp90.000 – Rp100.000. Ketentuan proses penggemukan itu juga membuka peluang usaha bagi masyarakat,” tuturnya.

Kedua, rekomendasi perizinan impor diberikan sekaligus dalam 12 bulan, dari sebelumnya empat bulan. Perpanjangan masa perizinan ini untuk memudahkan pelaku usaha dalam merencanakan impor sapi bakalan. “Kekhawatiran pelaku usaha mendapat sapi, tetapi tidak dapat kapal.

Dengan kelonggaran ini maka bisa direncanakan dengan baik. Sehingga tidak ada alasan tidak ada kapal, karena pemerintah telah memberi keleluasaan rekomendasi,” imbuhnya. RASIO SAPI Ketiga, implementasi audit rasio sapi indukan dan bakalan, 1:5 untuk pelaku usaha dan 1:10 untuk peternak atau koperasi, setiap dua tahun mulai pada 2018. Pemerintah, kata Dinal, berharap dengan keleluasaan bobot sapi dan rekomendasi dapat menggairahkan usaha penggemukan, di tengah anggapan ketentuan impor sapi indukan 1:5 yang dinilai memberatkan.

Dengan ketentuan itu, lanjutnya, maka mereka bisa bermitra dengan peter nak kecil, sehingga iklim usaha semakin baik. Hingga Februari ini, Kementerian Pertanian telah mengeluarkan rekomendasi im por sapi bakalan 147.125 ekor, yang diberikan kepada 23 perusahaan.

Rekomendasi itu diberikan pada Januari sebanyak 101.125 ekor sapi bakalan kepada 18 perusahaan, serta di Februari 46.000 ekor sapi bakalan kepada lima perusahaan. Jika melihat kebutuhan daging segar sepanjang 2017 ini, Kementerian Pertanian berencana mengeluarkan rekomendasi 700.000 ekor impor sapi bakalan. Adapun, pada 2016, telah dikeluarkan rekomendasi impor sapi bakalan 600.000 ekor kepada 40 perusahaan, tetapi hanya terealisasi 522.288 ekor.

Direktur Eksekutif Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) Joni Liano menyambut baik ketentuan bobot sapi yang termuat dalam rencana perubahan permentan. Ketentuan ini memberikan keleluasaan bagi pelaku usaha, pembelian sapi bakalan didasarkan pada harga dan kualitas karena pilihan lebih banyak. Berbeda, dengan ketentuan sebelumnya, yang berpeluang untuk dimainkan para eksportir.

“Dengan bobot 450 kilogram masih masuk kategori bakalan, sehingga masih memungkinkan menaikkan berat badan selama proses penggemukan. Kita mendapat kan keuntungan dari waktu penggemukan di dalam negeri,” tuturnya

Sumber: koran.bisnis.com

Baca juga
Upsus Siwab Akan Mempercepat Populasi
Disnakeswan : Lindungi Peternak Sapi Bengkulu Dari Kerugian, Diminta Masuk AUST
Peternakan Tapos Pernah Jadi Legenda dan Mati Suri
Indonesia Hentikan Sementara Impor Daging Kerbau India
Peternak Sapi Lenteng Agung Mendapat Edukasi Soal Limbah
“Kami Menargetkan 50 Ribu Rumah Pangan di Seluruh Indonesia”
Lampura Jadi Lumbung Sapi
Baru 2.668 Ekor Ternak Sapi di Bali Diasuransikan
Dinas Pertanian Trenggalek Temukan Dugaan Sapi Antraks

By | 2017-02-21T04:27:57+00:00 February 21st, 2017|Peristiwa|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment