Tinggi, Angka Kematian Pedet di NTB

Home/Peristiwa/Tinggi, Angka Kematian Pedet di NTB

Tingginya angka kematian anak sapi (pedet) di Provinsi NTB disinyalir bisa mengancam populasi sapi, bahkan menghapus sebutan NTB sebagai daerah Bumi Sejuta Sapi (BSS). Buktinya, angka kematian pedet usia 0-6 bulan di Provinsi NTB sudah masuk kategori kritis, yang mencapai 20 persen lebih setiap tahunnya, dari jumlah total indukan yang bunting melahirkan.

Baca juga

Pedagang Tolak Daging Kerbau Impor India
Harga Daging Bersubsidi Hanya Rp35 Ribu per Kilogram

Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi NTB, H. Ratmoko mengakui jika tingkat kematian anak sapi (pedet) usia 0-6 bulan cukup tinggi, utamanya yang ada di Pulau Sumbawa. “Kematian pedet di NTB memang masih tinggi, utamanya di Pulau Sumbawa,” ucap Ratmoko, Selasa (29/11).

Tingginya angka kematian pedet (anak sapi) lanjut Ratmoko, lebih disebabkan penggembalaan ternak sapi, utamanya di Pulau Sumbawa yang dilepas begitu saja di areal lahan luas. Akibatnya, ternak sapi, utamanya pedet mudah terserang penyakit jenis cacing askaris yang menjadi penyebab tertinggi kematian anak sapi di Pulau Sumbawa.

Selain itu, persoalan manajemen peternakan sapi di Pulau Sumbawa juga masih kurang bagus, yang berimbas rentan terkena penyakit, dan bisa membawa pada kematian pada ternak sapi.

Sumber: radarlombok.com

Baca juga
DKI Lirik Daerah Lain untuk Penggemukan Sapi
Pemkab Ciamis Dorong Pengembangan Usaha Ternak di Kawasan Lumbung Padi

By | 2016-12-04T13:22:45+00:00 November 30th, 2016|Peristiwa|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment