Importir Diimbau Masuk ke Sektor Pembibitan

Home/Peristiwa/Importir Diimbau Masuk ke Sektor Pembibitan

JAKARTA — Kementerian Pertanian mengimbau pelaku usaha penggemukan sapi potong untuk mengajukan volume impor sapi bakalan dan indukan secara bersamaan.
Pemerintah menetapkan kuota impor sapi bakalan pada empat bulan terakhir 2016 sekitar 150.000 ekor. Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Hari Priyono meminta
perusahaan penggemukan sapi segera mengajukan impor sapi bakalan dan indukan dengan komposisi masing- masing 80% dan 20%. Ketika pelaku usaha mengajukan impor sapi 1.000 ekor, maka terdiri dari 800 ekor sapi bakalan dan 200 ekor sapi indukan.

Sapi bakalan merupakan sapi impor yang dipelihara terlebih dahulu di dalam negeri paling cepat empat bulan sebelum dipotong. Sementara itu, sapi indukan digunakan untuk pembibitan di Tanah Air. “Meskipun hanya imbauan, perusahaan penggemukan sapi harus menerapkan ketentuan ini ,” ujar
Hari kepada Bisnis , Senin (29/8).

Dia menegaskan, Kementerian Pertanian telah meminta seluruh per- usahaan penggemukan sapi melak- sanakan imbauan itu. “Saat mereka mengajukan proses perizinan impor sapi bakalan, untuk juga mengajukan impor sapi indukan sesuai dengan kapasitas perusahaan mereka.” Menurutnya, jika importir tidak mengajukan impor sapi indukan, pemerintah tidak akan memberikan kuota impor sapi bakalan kepada perusahaan tersebut. Sapi indukan diperlukan untuk menambah populasi ternak di Tanah Air sehingga secara perlahan dapat mengurangi ketergantungan impor.

Hari menambahkan, imbauan itu bertujuan agar importir sapi bakaln secara perlahan masuk ke sektor pembibitan. Menurutnya, imbauan tersebut akan disesuaikan dengan kemampuan perusahaan dalam dalam memelihara sapi indukan. “Mereka mengajukan izin, dalam pengajuan itu kami imbau memasukkan juga sapi indukan. Nanti berapa bakalan berapa indukan itu nanti kami yang akan diseimbangkan komposisinya,” kata Hari.

Pemerintah kembali mencuatkan rencana untuk mewajibkan pada importir sapi bakalan ikut mengembang kan pembibitan. Kementerian Perdagangan hingga saat ini belum berencana mengeluarkan aturan yang mewajibkan hal tersebut. Kemendag memberikan insentif bagi perusahaan penggemukan sapi yang ikut mengembangkan pembibitan. Insentif itu berupa izin impor yang berlaku sepanjang tahun.

Selama ini, pelaku usaha hanya dibebankan untuk merealisasikan impor sapi bakalan tanpa harus meng impor sapi indukan. Hari menyampaikan, untuk masuk ke sektor pembibitan, pelaku usaha sebenarnya tidak perlu menambah kapasitas kandang karena dapat bermitra dengan peternak.

MENGAJUKAN IMPOR

Merespons imbauan tersebut, Direktur Eksekutif Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) Joni Liano menyampaikan, perusahaan yang menjadi anggota asosiasi tersebut telah mengajukan volume impor sesuai dengan kapasitas masing-masing. “Jadi, kami yang impor sapi bakalan, untuk juga memasukkan sapi indukan sesuai dengan kemampuan perusahaan penggemukan sapi. Memang disadari usaha ini panjang dan butuh modal besar sehingga sangat bergantung pada setiap perusahaan,” kata Joni.

Pelaku usaha telah mengajukan proposal bisnis usaha pembibitan sapi untuk jangka waktu lima tahun. Joni menuturkan, beberapa pelaku usaha penggemukan sapi telah memulai bisnis pembibitan sapi. Menurutnya, pemerintah perlu menyusun insentif untuk menarik pebisnis untuk melakukan pembibitan sapi. Direktur Kesehatan Hewan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita mengatakan, pemerintah terus mengevaluasi komposisi impor sapi bakalan dan indukan. “Tapi masing-masing pengusaha ada kuota. Jadi kami lihat dari situ. Ini akan kami susun secara proporsional,” kata Ketut.

Bisnis mencatat sepanjang tahun ini, pemerintah mengalokasikan impor sapi bakalan sebanyak 600.000 ekor. Hingga delapan bulan pertama tahun ini, realisasi impor sudah mencapai 402.163 ekor.

INSENTIF
Sementara itu, Kementerian Perdagangan tengah menunggu proposal investasi para importir sapi bakalan untuk segera menghitung besaran insentif yang bisa diberikan kepada perusahaan penggemukan sapi. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengatakan,secara keseluruhan, ada 40 perusahaan penggemukan sapi skala besar yang menguasai pangsa pasar di Indonesia. Hingga kini, telah ada 15 proposal yang telah disetor kalangan importir sapi bakalan. Jumlah itu, lanjut Oke, baru mewakili 40% dari total pangsa pasar. “Iya , intinya kami sedang mempelajari usulan masing-masing. Arahannya Pak Menteri , dalam proposal itu harus punya target waktu ke arah kemandirian untuk lepas dari impor,” ujar Oke kepada Bisnis, Senin (29/8).

Oke menyebutkan, jika proposal tersebut menyatakan swasembada sapi dapat dicapai dalam lima tahun, data kebutuhan impor sapi baka- lan perlu dipaparkan. Jika hitung-an importir tersebut masuk dalam kajian Kemendag, pengusaha berhak mendapatkan insentif. Insentif itu dapat berbentuk masa persetujuan impor yang lebih panjang dan kuota impor yang sesuai dengan pengajuan importir. “Kalau lima tahun dan tiga tahun itu masih masuk untuk memenuhi target kemandirian, tetapi kalau 20 tahun jangka waktunya, tidak akan kami setujui,” tegas Oke.

Oke melanjutkan, kebijakan itu tidak memerlukan beleid anyar. Sebab, untuk meminta persetujuan impor, salah satu pertimbangannya yakni ke arah kemandirian. “Ini memang pe rsyaratannya demikian, jadi tak perlu aturan baru.

Sumber “Bisnis Indonesia”

By | 2017-05-09T07:50:01+00:00 August 30th, 2016|Peristiwa|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment