Politik Daging Sapi

Home/Peristiwa/Opini/Politik Daging Sapi

Oleh Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA, DEA

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia

Bak menabrak dinding angin, titah penurunan harga daging sapi menjadi Rp80 ribu/kg dari Presiden Jokowi pada menjelang Idul Fitri 2016 ini meluncur tanpa respon. Pasar diam. Harga tetap bertahan. Ini bukan titah pertama yang tak bertuah. Menjelang lebaran 2015 pun keadaan yang sama juga terjadi. Ada apa sesungguhnya? Dari mana Presiden dapat memperoleh besaran harga tersebut?

Kita mafhum pemerintah menginginkan semua harga komoditas pangan, termasuk daging sapi dapat lebih terjangkau oleh masyarakat konsumen. Tujuannya sangat mulia, agar semakin banyak segmen masyarakat dapat menikmati jenis protein hewani ini. Namun, tentunya perlu dilihat urgensi, rasionalitas, dan dimensi ekonomi yang lainnya. Apakah memang harga perlu dipaksakan turun saat ini? Dan apakah penurunan harga ini mampu menyejahterakan konsumen, pedagang, dan produsen secara adil?

Proses pembentukan harga merupakan keseimbangan antara permintaan dan penawaran. Mekanisme pembentukan harga pasar, baik di Indonesia maupundunia, memperlihatkan kepada kita, harga daging sapi dan sapi hidup terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada 2000, harga daging sapi di Indonesia rata-rata hanya Rp25.283/kg dan pada 2010 sudah mencapai rata-rata Rp67.100/kg. Pada 2011 menembus Rp71.701/kg dan 2014 melonjak menjadi Rp100 ribu/kg atau naik 29,4%.

Sementara di Australia yang merupakan gudangnya sapi dunia, harga sapi rata-rata mengalami kenaikan 100 sen dollar Australia per kg bobot hidup per tahun. Sapi hidup di Filipina saat ini mencapai harga sekitar Rp65 ribu/kg dan Malaysia sekitar Rp38,5 ribu/kg bobot hidup. Dengan demikian, apabila harga sapi hidup di Indonesia saat ini Rp40 ribu-Rp41 ribu/kg sehingga terkonversi menjadi Rp115 ribu-Rp117 ribu/kg harga daging, maka itu masih wajar.

Semua daging berkualitas baik (prime cut) di dunia pasti di atas Rp100 ribu/kg.Sedangkan harga Rp80 ribu/kg itu merupakan harga daging kualitas tetelan yang bercampur lemak, daging sisa pada tulang iga atau daging dari India yang statusnya belum bebas Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Harga sapi hidup Rp40 ribu/kg itu pun sebenarnya belum menjamin kesejahteraan peternak. Asumsinya, kebutuhan pakan untuk pertambahan bobot badan (PBB)satu kilogram per hari menelan biaya minimal Rp25 ribu. Dengan pemeliharaan 3 bulan (100 hari), biaya pakan mencapai Rp2,5 juta dan perolehan PBB 100 kg atau setara Rp4 juta. Jadi, keuntungan kotor (belum termasuk tenaga kerja, biaya kesehatan, dan penyusutan kandang) adalah Rp1,5 juta per tiga bulan atau peternak mendapatkan untung kotor Rp500 ribu/bulan.

Apabila harga daging ditekan menjadi Rp80 ribu/kg itu artinya harga sapi hidup sekitar Rp30 ribu/kg. Dengan asumsi yang sama, pendapatan peternak hanya Rp500 ribu per tiga bulan atau hanya Rp5.500/hari. Kalau ia hanya memiliki 2-3 ekor, sungguh sangat miris!

Dari sisi urgensi pun masih perlu pengkajian karena berdasarkan hasil penelitian Prof. Tjeppy Sudjana dari Puslitnak Bogor, konsumen daging sapi hanya sekitar 16% dari total penduduk Indonesia. Mereka kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke atas dengan konsumsi daging sapi lebih dari 15 kg/kapita/tahunyang imun terhadap kenaikan harga daging sapi atau kalau terlalu mahal bisa mencari sumber protein lain.

Intervensi Harga Perlu Waktu

Kalau pun pemerintah ingin mengintervensi harga atau punya target harga tertentu untuk daging sapi, mestinya menyiapkan dahulu amunisi. Butuh waktu minimal satu atau bahkan empat tahun untuk menyusun rancangan dan aksi yang tepat. Kita ingat, harga Rp80 ribu/kg adalah harga daging sapi empat tahun silam. Lonjakan harga saat ini adalah implikasi dari kebijakan yang kita laksanakan atau tidak kita laksanakan selama empat tahun tersebut. Kebijakan yang “ujug-ujug” hanya akan membingungkan pelaku usaha dan pelaku pasar. Hasilnya juga akan nihil.

Kelanjutan tentang tulisan ini baca di Majalah AGRINA versi Cetak volume 12 Edisi No. 265 yang terbit pada Juli 2016. Atau klik dirve.google

Sumber: fapet.ugm.ac.id

Sumber foto: jognews.com

 

By | 2017-05-09T07:50:07+00:00 July 26th, 2016|Opini|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment